(Source: thouloves)
Movies and Music
(Source: thouloves)


Rated: 7 / 10
Starring: Judd Nelson, Emilio Estevez, Molly Ringwald, Anthony Michael Hall, Ally Sheedy
Director: John Hughes
Film ini bercerita tentang 5 orang remaja yang yang tidak sengaja berkumpul karena mendapatkan detensi dari sekolahnya di hari sabtu, 24 Maret 1984. Kelima remaja ini punya swag yang berbeda, ‘kelompok’ yang berbeda: John Bender; seorang punk yang suka insult dan ngerusuh, Claire Standish; tipikal ratu-ratu sekolah yang sangat dandan, Andrew Clarke; atlet sekolah, Brian Johnson; anggota club fisika yang benci nilai B dan terakhir, Allison Reynolds; cewek aneh yang punya dunia sendiri.
Kelima remaja ini adalah murid Shermer High School. Seharusnya tidak ada kelas di hari Sabtu, tapi tidak pada Sabtu itu. John, Claire, Brian, dan Allison harus datang ke sekolah untuk mendapat hukuman karena kelakuan mereka. Di perpustakaan, oleh wakil kepala sekolah mereka, Mr. Vernon, mereka disuruh membuat esai tentang “Siapa mereka”. Waktu yang disediakan cukup lama yakni hingga sore hari. Alih-alih menyelesaikan tugas, mereka malah berleha-leha, mengejek satu sama lainnya. John bisa dikatakan lakon utama yang membuat suasana perpustakaan menjadi panas. Ia merasa keempat anak lainnya benar-benar tidak cocok dengan dirinya. Ini tahap awal pertemanan mereka, kalau saya boleh membikin pembagian, ada 3 tahapan sebelum menuju pesahabatan 5 remaja ini. John ingin pintu perpustakaan dibuka saja agar Vernon tidak mendengar apa yang sedang mereka lakukan didalam. Maka ia merusak sekrup pintu sehingga pintu perpustakaan yang berat itu tidak bisa ditutup lagi. Keempat anak lainnya tidak setuju dengan John yang merusak pintu, mereka kembali perang mulut dan terdnegarlah oleh Vernon. Ia terkejut pintu perpustakaan sudah tertutup. Ia pun masuk dengan emosi menanyakan siapa yang melakukan ini. Tak satupun dari mereka mengaku atau berteriak “John yang melakukannya!”. Namun Vernon sudah menduga pelakunya John. Mereka benar-benar perang mulut tentang apa saja, saling mengejek dunia mereka masing-masing, dunia claire yang serba mewah, melempar tatapan aneh pada “mute Allison” terhadap cara ia menyantap sandwichnya, mengejek Andrew atas keatlitannya, sampai perang pola berpikir. Dunia mereka berbeda, jelas mereka punya cara berpikir yang berbeda pula. John dibesarkan dengan kekerasan itulah alasannya mengapa ia tumbuh menjadi remaja sinis yang suka memberontak. Allison mengaku sering diabaikan orang tuanya. Suatu ketika, Vernon keluar ruangannya, kelima remaja ini pun menyelinap keluar perpustakaan. Bermain petak umpet bersama Vernon di gedung sekolah. Menuju loker John dan disanalah mereka tahu kalau John pemakai ganja. Mereka terus berlari dan bersembunyi dari kejaran Vernon sampai akhirnya menemui jalan buntu yang tadi diarahkan Andrew. Panik, John berusaha menetralisir keadaan, ia berlari sambil bernyanyi keras-keras digedung sekolah guna menarik perhatian Vernon sehingga teman-temannya bisa kembali ke perpusatakaan dengan aman. Jadi, John saja yang tertangkap. John mendapat hukuman tambahan, ia dikurung di gudang sempit oleh Vernon. Bukan John namanya kalau tidak bisa keluar dari lubang tikus itu. Ia merangkak di atas lorong langit-langit sekolah yang membawanya kembali ke perpustakaan mengejutkan teman-temannya. Vernon yang mendengar suara gaduh dari perpustakaan kembali datang untuk mengecek. Hanya ada 4 orang disana. Seperti tidak terjadi apa-apa. Sementara John bersembunyi dibawah meja. Vernon keluar dengan kesal karena tidak mendapat jawaban. Sampai disini tahap kedua. Tahap ketiga, ketika mereka bercerita tentang banyak hal dan rahasia-rahasia mereka di lantai atas perpustakaan. Awalnya Andrew, ia mengaku kena detensi karena mengerjai lawannya, ia melakukan itu karena ingin menjadi atlet terbaik disekolah seperti yang diharapkan ayahnya. Lalu Brian, ia mendapat detensi karena seorang guru menemukan pistol di lokernya. Ia berencana ingin bunuh diri karena mendapat nilai F setelah lampu yang ia ciptakan tidak dapat menyala. Uniknya, Allison yang nyetrik ini tidak punya alasan apa-apa perihal mengapa ia bergabung dengan ke4 lainnya di sabtu yang menyedihkan itu. Ia hanya tidak tau apa yang akan dilakukan, jadi ia hanya sekedar datang kesekolah. Sebelumnya alasan mengapa Claire didetensi sudah disebutkan,yaitu karena ia membolos untuk pergi shopping, John…rasanya sudah jelas, ia punkish. Lama-lama kedekatan mulai terasa diantara mereka. Tiba-tiba saja 5 kepribadian yang berbeda menjadi satu. Mereka mulai bisa menerima satu sama lain. Dan siapa sangka hari Sabtu yang mereka pikir akan membosankan itu menjadi titik awal persahabatan mereka.
Diakhir film, hanya Brian yang mengerjakan esai. Hanya satu esai yang mewakili keseluruhan mereka untuk sebuah pertanyaan “siapa saya”. Kemudian Allison yang serba gelap, tak pandai berdandan dan punya potongan rambut mengerikan didandani oleh Claire. Allison sebenarnya gadis yang cantik, Andrew jatuh cinta padanya (dari awal sebenarnya ia sudah terlihat antusias dengan kelakuan aneh Allison). Begitu pula dengan John dan Claire, Claire diam-diam menyukai John. Seketika Sabtu yang diramalkan kelabu itu berubah menjadi Sabtu yang indah.
Film ditutup dengan adegan mereka pulang ke rumah masing-masing,dan Vernon, ia telah membaca esai mereka:
Saturday, March 24, 1984. Shermer High School, Shermer, Illinois. 60062.
Dear Mr. Vernon, we accept the fact that we had to sacrifice a whole Saturday in detention for whatever it was that we did wrong…and what we did was wrong, but we think you’re crazy to make us write this essay telling you who we think we are. What do you care? You see us as you want to see us… in the simplest terms and the most convenient definitions. You see us as a brain, an athlete, a basket case, a princess and a criminal. Does that answer your question?
Sincerely, The Breakfast Club.
Endingnya cuma cinta-cintaan begitu? Well kids, jangan fokus dengan endingnya. Proses menuju endingnya yang membuat film ini menyenangkan. Sejujurnya saya sedikit pusing membuat review detail film ini. Filmnya sangat hidup. Sangat baik mendeskripsikan ‘satu hari indah’ ala masa sekolah. Tapi sulit ditulis. Ngomong-ngomong, 60’s stylenya juga menyegarkan mata :)
![24hoursofrubbish:
THE PROPER KIND: An introduction to the music of Graham Coxon
Graham Coxon is a prolific English singer/songwriter, multi-instumentalist, producer, and artist. Despite all of this, he is still best-known for being the guitarist and occasional songwriter and vocalist for Blur. However, if you spotted this post looking for some of the shiny-sounding “Britpop” that Blur brought to prominence in the 1990s, there’s none of that to be found here. With influences that range from 1960s giants like The Beatles and The Who to lesser-known American indie groups such as Pavement and Mission of Burma, Graham’s managed to create an impressive body of work that showcases his signature highly-praised guitar work and also (sometimes alarmingly personal) lyrical themes of love, struggle, neuroticism, and the occasional social commentary, all of which are delivered with a sense of humor and earnestness which seems to be lacking on many records today. With a new album slated for release later this year, and a slew of European festival dates this summer, this is the perfect time for you to accept Coxon into your life! Or at least, y’know, onto your ipod.
*All songs are in mp3 format. Click through to stream a track or right-click + save as to download.
Or here’s a handy [ZIP] if you wanna try it all!
The Sky Is Too High (1998)
That’s All I Wanna Do
A Day Is Far Too Long
I Wish
Hard + Slow
Who The Fuck?
The Golden D (2000)
Jamie Thomas
The Fear
Oochy Woochy
Don’t Think About Always
Crow Sit On Blood Tree (2001)
Empty Word
Tired
Thank God For The Rain
You Never Will Be
The Kiss Of Morning (2002)
Escape Song
Baby, You’re Out Of Your Mind
It Ain’t No Lie
Just Be Mine
Happiness In Magazines (2004)
Spectacular
Bittersweet Bundle Of Misery
All Over Me
Freakin’ Out
Love Travels At Illegal Speeds (2006)
I Can’t Look At Your Skin
You & I
I Don’t Wanna Go Out
Don’t Believe Anything I Say
The Spinning Top (2009)
In The Morning
If You Want Me
Dead Bees
Sorrow’s Army
Tripping Over
From the upcoming album A&E(Live from the Brixton Academy Japan Benefit)
City Hall
Running For Your Life
B-Sides/Singles
All I Wanna Do Iz Listen To Yuz (2002)
Life It Sucks (2004)
Light Up Your Candles (2006)
This Old Town (with Paul Weller) (2007)
Covers
Love You (Syd Barrett)
Billy Hunt (The Jam)
Been Smoking Too Long (Nick Drake)
Time For Heroes (The Libertines)
That’s When I Reach For My Revolver (Misson of Burma)
Borstal Breakout (with Carl Barat) (Sham 69)](http://25.media.tumblr.com/tumblr_lll4uc777q1qigb4co1_r1_500.gif)
THE PROPER KIND: An introduction to the music of Graham Coxon
Graham Coxon is a prolific English singer/songwriter, multi-instumentalist, producer, and artist. Despite all of this, he is still best-known for being the guitarist and occasional songwriter and vocalist for Blur. However, if you spotted this post looking for some of the shiny-sounding “Britpop” that Blur brought to prominence in the 1990s, there’s none of that to be found here. With influences that range from 1960s giants like The Beatles and The Who to lesser-known American indie groups such as Pavement and Mission of Burma, Graham’s managed to create an impressive body of work that showcases his signature highly-praised guitar work and also (sometimes alarmingly personal) lyrical themes of love, struggle, neuroticism, and the occasional social commentary, all of which are delivered with a sense of humor and earnestness which seems to be lacking on many records today. With a new album slated for release later this year, and a slew of European festival dates this summer, this is the perfect time for you to accept Coxon into your life! Or at least, y’know, onto your ipod.
*All songs are in mp3 format. Click through to stream a track or right-click + save as to download.
Or here’s a handy [ZIP] if you wanna try it all!
The Sky Is Too High (1998)
The Golden D (2000)
Crow Sit On Blood Tree (2001)
The Kiss Of Morning (2002)
Happiness In Magazines (2004)
Love Travels At Illegal Speeds (2006)
The Spinning Top (2009)
From the upcoming album A&E
(Live from the Brixton Academy Japan Benefit)B-Sides/Singles
- All I Wanna Do Iz Listen To Yuz (2002)
- Life It Sucks (2004)
- Light Up Your Candles (2006)
- This Old Town (with Paul Weller) (2007)
Covers
- Love You (Syd Barrett)
- Billy Hunt (The Jam)
- Been Smoking Too Long (Nick Drake)
- Time For Heroes (The Libertines)
- That’s When I Reach For My Revolver (Misson of Burma)
- Borstal Breakout (with Carl Barat) (Sham 69)
(Source: false-grailsdeactivated)

Rated: 7 / 10
Starring: Gary Oldman, Chloe Webbs
Director: Alex Fox
Sid & Nancy. Kisah klasik Romeo dan Juliet-nya punk. Saya sudah lama ingin menonton film ini hanya baru sekarang kesampaian. Perjalanan hidup mereka sepanjang yang saya perhatikan secara tulisan tidak begitu runut dan jelas, sehingga bisa menghadirkan interpretasi macam-macam. Misteri tentang bagaimana Nancy meninggal juga belum jelas seperti apa. Film ini berani menawarkan interpretasi mereka sendiri tentang punk couple legendaris ini. Cukup ngeri, cukup nekat. Saya dengar Johnny Rotten mengaggap film ini hanya omong kosong belaka. Karena menurut pengakuannya, ia bahkan tak sekalipun diwawancarai untuk film ini.
Sid bertemu Nancy di rumah Linda, salah satu temannya. Nancy ini digambarkan benar-benar liar dan bengal —-awalnya saya pikir Nancy ini lebih baik dari Sid tabiatnya—- Hidupnya hanya diliputi narkoba, seks dan keliaran lainnya. Nancy sepertinya sudah tertarik juga dengan Sid sejak pertama kali bertemu, namun Sid muda ini tidak begitu suka melihatnya, cewek hippies yang kerjaannya menggoda. Sampai suatu hari, ketika mereka bertemu lagi di bar, Nancy tengah menuntut seorang pria yang berhutang padanya. Permintaannya tidak diacuhkan sebaliknya mendapat perlakuan kasar. Di luar bar, Sid yang kasihan pada Nancy, menawarkan diri membeli “barang” pada Nancy maka ia memberikan uangnya pada Nancy, Nancy bilang ia akan kembali dan membawa barangnya. Sid menunggu sampai malam, Nancy tak pernah kembali.
Suatu hari, Sid dan Johnny menemukan tas besar berisi barang-barang pribadi perempuan ditengah jalan. Tas itu milik Nancy. Nancy keluar dari dalam gedung shock melihat tasnya dilempar kejalan, ia memunguti barang-barangnya dengan kesal tak peduli dengan 2 orang lainnya. Sid menyesaki Nancy akan barang yang dipesannya dulu. Dengan kesal dan mau tak mau, Nancy memberikan jatahnya pada pria itu. Mereka bertiga akhirnya tinggal di apartemen Johnny. Disanalah Sid secara resmi jatuh cinta pada Nancy. Sejak hari itu mereka tak terpisahkan kemana-mana. Acapkali Sex Pistols merasa terganggu dengan kehadiran Nancy ini. Tapi Sid tak pernah bisa hidup tanpa Nancy.
Kisah terus berlanjut, Sex Pistols bubar. Ia kini hidup untuk Nancy seorang sebagai artis perusuh yang miskin dan pencandu narkoba kelas berat. Bersama Nancy hidupnya makin tak jelas.
Hingga insiden Hotel Chelsea itu terjadi, diinterpretasikan Alex Cox, Nancy-lah yang ingin dirinya dibunuh. Ia pernah bertanya pada Sid, jika ia bunuh diri apa yang akan dilakukan kekasihnya itu. Sid bilang ia tidak sanggup hidup tanpa Nancy, jadi ia akan bunuh diri. Subuh itu Nancy menuntut janji Sid, Nancy mengaku tak sanggup lagi menantang matahari esok pagi dengan keadaan seperti ini, hidup melarat dan diliputi narkoba. Sid tidak bisa membunuh Nancy begitu saja, sebaliknya Sid punya niat untuk kembali ke London dan mengubah hidupnya. Tapi Nancy tidak. Ia ingin mati.
Maka gadis itu bunuh diri.
Ketika Bowery, temannya menemukan Sid di kamar nomor 100 tengah memegang pisau terduduk lesu di pinggir kasur seolah menyerahkan diri begitu saja jika polisi nanti datang. Sebelumnya pisau ini adalah pisau yang direngekkan Nancy pada Sid agar dibelikan. Seluruh seprai bersimbah darah dan mayat Nancy dengan underwear hitam berdarah di toilet. Polisi pun datang, secara tidak langsung pastilah menduga Sid pembunuhnya: pisau ditangannya dan hanya mereka berdua didalam kamar. Sid pasrah, ia membiarkan polisi menuduh dirinya sebagai pelaku. Sid meninggal akibat overdosis tak lama setelah itu.
Demikianlah interpretasi film ini. Cukup baik namun otentik atau tidaknya tak ada yang tahu. Entah memang Nancy yang ingin Sid membunuh dirinya, entah sebenarnya Sid yang menikam kekasihnya itu, aslinya tidak jelas. Sayang tidak ada cuplikan bagaimana Sid mati, padahal akan bagus sekali kalau dimasukkan juga bagian tentang surat cinta Sid untuk Little Girl-nya, Nancy yang ditemukan disaku celananya ketika meninggal itu. Ya, sekiranya Sid mungkin merencanakan overdosisnya itu dan menulis surat cintanya pada Nancy, bagaimana perasaannya setelah Nancy tak lagi bersamanya.
Karakter Nancy disini menurut saya liar sekali, malah lebih liar dari Sid. Hehehe..
Saya pribadi juga kurang menyukai Chloe Webbs sebagai Nancy, memang aktingnya bagus, tapi kurang cantik untuk seorang Nancy Spungen J Sementara Gary Oldman, he’s man on the right place!
Sekian review saya, maaf kalo spoiler :D